Anggota Badan Anggaran DPRD Sidoarjo Bangun Winarso mengatakan, kebijakan refocusing dilakukan untuk menyeimbangkan nilai pendapatan dan belanja daerah. Ada sejumlah program yang terpaksa ditunda karena anggarannya akan dialihkan ke program prioritas pembangunan.
Dia menjelaskan, beberapa pos pendapatan yang turun sebagian besar berasal dari transfer dana pusat. Seperti (Dana Alokasi Umum (DAU) yang turun sekitar Rp 16 miliar dan Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar Rp 11,6 miliar. Termasuk Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) 2021 yang awalnya dianggarkan sebesar Rp 950 miliar.
''Namun ternyata turun menjadi Rp 840 miliar,'' katanya.
Politikus PAN tersebut mengatakan, saat ini sedang dilakukan proses rasionalisasi di masing-masing OPD yang terkena refocusing. Setelah itu pengalihan anggarannya akan ditetapkan dalam Perubahan APBD (PAPBD) 2022.
Bangun mengaku belum mengetahui secara pasti program apa saja yang akan terkena refocusing. Namun rencana pembangunan puskesmas Bebekan dan pembangunan SMPN 2 Prambon tahun ini harus ditunda. ''Untuk SMPN 2 Prambon sementara fokus pembebasan lahan dulu,'' imbuhnya.
Sementara itu Bupati Sidoarjo, Ahmad Muhdlor mengaku sudah menyiapkan beberapa jurus untuk mengatasi hal tersebut. Misalnya dengan mengoptimalkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari berbagai sumber pajak dan retribusi daerah. Rencananya dilakukan intensifikasi dan ekstensifikasi pajak.
Selain itu pihaknya juga akan mengalihkan anggaran dari pos-pos pengeluaran yang tidak terlalu sesuai dengan program prioritas daerah. Muhdlor menambahkan, besaran anggaran yang akan direfocusing sekitar Rp 400 miliar. (nis/vga) Editor : Vega Dwi Arista