Desa Simoketawang, Kecamatan Wonoayu dikenal sebagai desa wisata kelengkeng. Tidak hanya dipenuhi pohon kelengkeng, kini juga tersedia olahan kelengkeng. Salah satunya adalah kopi dari biji kelengkeng.
Annisa Firdausi, Wartawan Radar Sidoarjo
Biasa disebut koleng. Kependekan dari kopi kelengkeng. Inovasi ini baru. Selama ini memang belum pernah ada kopi dari biji kelengkeng.
Kepala Desa Simoketawang Zainudin menjelaskan, cara pembuatannya tidak jauh berbeda dengan biji kopi biasa. Biji kelengkeng dipisahkan terlebih dahulu dari daging buahnya. Kemudian dicuci bersih dan dikeringkan. Selanjutnya diroasting dan digiling.
Hasilnya dikemas dalam kemasan seberat 200 gram. Dalam satu kemasan tersebut, tetap dicampur dengan biji kopi robusta. Persentasenya 70 persen biji kelengkeng, 30 persen biji kopi. "Ketika diseduh ada aroma kopi dan kelengkengnya," katanya.
Zainudin mengatakan, kelengkeng yang digunakan berbeda jenisnya dengan di toko-toko buah. Jenis kelengkeng yang digunakan memang memiliki daging tipis. Tentunya berasal dari kebun mereka sendiri. "Daging yang tipis namun bijinya besar. Jadi kami manfaatkan bijinya,” ujarnya.
Untuk harga, per 200 gram kopi kelengkeng ini dibanderol seharga Rp 35 ribu. Zainudin mengakui, harga kopi kelengkeng ini lebih mahal dibanding kopi robusta lainnya. Sebab, proses pembuatannya masih manual oleh warga sekitar.
“Kopi kelengkeng ini telah diuji di laboratorium. Dan hasilnya aman untuk dikonsumsi,” imbuhnya.
Koleng menjadi salah satu produk olahan kelengkeng unggulan di Desa Simoketawang. Selain itu ada juga produk selai kelengkeng, jus kelengkeng, dan juga lengsuding, perpaduan antara kelengkeng, susu, dan puding. Semua produk tersebut bisa didapatkan di Kampung Wisata Kelengkeng Desa Simoketawang. (*/vga) Editor : Vega Dwi Arista