Sebagai pelestari budaya, keinginan Susilo hanya satu. Perhatian dari pemerintah daerah lebih besar lagi. Yakni dengan memperbanyak ruang tampil agar kesenian asli Sidoarjo tersebut semakin dikenal.
Rizky Putri Pratimi, Wartawan Radar Sidoarjo
Meskipun bertahan seratus tahun, belum cukup untuk melestarikan Reog Cemandi. Menurut Susilo, generasi kelima pelestari kesenian Reog Cemandi mengungkapkan jika tidak cukup kesenian itu diwariskan pada muridnya di sanggar.
Memang, yang selama ini meneruskan geliat Reog Cemandi masih mengandalkan dari murid yang berguru padanya. Serta orang terdekat di lingkungan desa yang ada di Kecamatan Sedati itu saja.
"Murid saya di sanggar ada 15 orang. Mayoritas anak muda. Semua sudah paham sejarah dan seluruh pakem yang ada di Reog Cemandi. Mereka akan jadi penerus saya nantinya," katanya.
Selain di sanggar, Susilo juga ingin siswa di beberapa SD hingga SMA yang diajari kesenian Reog Cemandi ini bisa menjadi bibit pelestari.
Namun menurutnya, hal itu belum cukup. Ia ingin nama harum dan besarnya Reog Cemandi mengikuti jejak langkah Reog Ponorogo.
"Semua orang tahu Reog Ponorogo karena sering ditampilkan dimana-mana. Yang mengerti dan pernah belajar pun ikut andil mengembangkan reog itu dimanapun mereka tinggal," imbuhnya.
Pria kelahiran 6 Mei 1953 itu berharap pemkab bisa memperbanyak kesempatan Reog Cemandi tampil di berbagai acara penting di dalam ataupun di luar Sidoarjo.
"Bisa jadi dari penampilan itu, memantik keingintahuan generasi muda di luar Sidoarjo untuk mempelajari Reog Cemandi," harapnya.
Agar bisa diterima masyarakat, Reog Cemandi harus mengikuti zaman agar berkembang. "Boleh dikombinasikan dengan alat musik lain. Asalkan pakem asli reog ini tidak hilang," pungkasnya. (*/vga) Editor : Vega Dwi Arista