Hendrik Muchlison/Wartawan Radar Sidoarjo.
Kerajinan itu bentuknya juga beragam. Mulai dari tempat tisu, tas belanja, hingga tas laptop. Harganya juga bervariasi, tergantung dari ukuran, kesulitan pembuatan hingga kualitas barang. "Mulai Rp 15 ribu hingga Rp 175 ribu," kata Dwi Andriani.
Dwi menceritakan, ide krearifnya itu muncul saat melihat banyaknya sampah bungkus kopi sacet yang di hasilkan warung-warung kopi tempat tinggalnya. Dwi kemudian berfikir bagimana cara memanfaatkan barang yang dianggap sampah itu menjadi barang bernilai.
Berbekal dari kemampuan dasar menganyam, ia kemudian mengutak atik bungkus kopi menjadi bentuk anyaman layaknya bambu. Yang kemudian dibentuk dalam rupa barang jadi seperti tas hingga tempat tisu.
Dan hasilnya ternyata cukup memuaskan. Al hasil produksinyapun terus ditingkatkan sembari mengisi waktu luang.
Dwi juga tidak sendirian, ia biasanya membuat kerajinan tangan dari barang bekas itu bersama ibu- ibu di tiga desa yang memiliki kegemaran sama. Yakni ibu-ibu dari Desa Gilang, Sambibulu, dan Bringin Bendo. "Lumayan, sehari satu orang bisa hasilkan dua karya," katanya.
Soal pemasaran, Dwi juga telah menyiapkan sejumlah strategi. Mulai dari penjualan langsung di kawasan Desa Agri Wisata Sambibulu, ataupun melalui lapak online. "Lumayan untuk nambah uang belanja," imbuhnya.
Dwi menambahkan, produksi tas maupun kotak tisu tersebut sudah ada sejak 2017 lalu. Saat ini, kerajinan tangan itu juga sudah mulai dikenal masyarakat luas.
Menurutnya modal dasar utama yang perlu dimiliki untuk bisa menghasilkan kerjajinan tangan tersebut adalah ketelatenan. Karena ibu-ibu harus cermat dan teliti merangkai dari bungkus kopi sacet yang bentuknya kecil menjadi bentuk unik seperti tas dan tempat tisu. (*/opi) Editor : Nofilawati Anisa