Sebagai ciri khas Sidoarjo, baju pengantin khas Jenggolo masih harus selalu disosialisasikan. Pamornya masih kalah dari busana adat lain di tanah Jawa. Padahal baju pengantin Jenggolo punya karakteristik khusus termasuk upacara adatnya.
Rizky Putri Pratimi/Wartawan Radar Sidoarjo
Sudirman pengurus Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (Harpi) Melati Sidoarjo mengatakan selain aksesoris, dalam upacara pernikahan adat Jenggolo ini juga memiliki kerakter tersendiri. "Ada iringan musik rebana. Meriah, ramai," kata Dirman sapaan akrabnya.
Dirman menejelaskan upacara adat pernikahan saat temu manten ada tukar kembar mayang rontek, hiasan artistik terbuat dari anak pisang yang dihiasi dengan janur dan bunga jambeh serta dipercantik dengan rontek atau kertas warna-warni yang dililitkan pada lidi.
Kembar mayang rontek ditukar kemudian dipergunakan sebagai hiasan pelaminan saat resepsi pernikahan. Kembang mayang rontek adalah lambang atau simbol bahwa kedua pengantin masih gadis dan masih perjaka.
Memberi bekusut yang disiapkan mempelai pria. Bekusut terbuat dari sapu tangan putih yang di dalamnya diisi uang kertas kemudian dilipat dengan rapi. Mempelai putra yang memberikan bekusut dimaknakan sebagai sebuah kesanggupan menebus semua kebutuhan mempelai putri.
Menginjak gendik dan pipisan suatu alat yang digunakan untuk menghaluskan bahan jamu tempo dulu. Dimaknakan supaya mempelai berdua dalam membangun rumah tangga dapat segar bugar serta sehat jasmani dan rohani.
Thuthuk telur yang dilakukan oleh pamong manten. Telur ditempelkan pada dahi mempelai putra dan mempelai putri kemudian dijatuhkan. Thuthuk dimaknakan kedua mempelai haruslah ingat di dalam membangun rumah tangga harus bisa memecahkan kesulitan hidup berumah tangga dan juga siap member wiji suci (wiji dadi).
Dirman sapaan akrabnya mengungkapkan bahwa Harpi Melati Sidoarjo saat ini tengah mengembangkan model busana pengantin Jenggolo Keprabon atau khas raja. Sebab yang ada sekarang ini digolongkan busana khas kesatria.
Tak henti hentinya tim Harpi Melati terus mensosialisasikan busana pengantin Jenggolo ini. Sebab belum banyak calon pengantin yang ingin pakai busana adat Jenggolo.
Dirman dan seluruh anggota Harpi Melati Sidoarjo menginginkan contoh busana Jenggolo bisa masuk ke museum agar bisa dikaji dan dipelajari banyak kalangan. "Masih perlu menyusun buku bahan ajar yang sesuai standar. Untuk hal ini kami perlu dukungan pihak terkait," harapnya. (*/opi) Editor : Nofilawati Anisa