Mayoritas berada di dalam boks bayi. Beberapa balita memilih berlatih berjalan dengan baby walker. Terlihat perawat menenangkan beberapa bayi yang sedang menangis. Perawat lain sibuk memberi susu pada balita secara bergiliran.
Setiap harinya aktivitas di UPT PPSAB dimulai pukul 07.00. Seusai bangun tidur, anak-anak mandi, sarapan, mengaji lalu bermain sambil berjemur dihalaman. Hingga pukul 10.00.
Kepala UPT PPSAB Dinsos Jatim Dwi Antini mengatakan, saat ini ada 53 anak yang diasuh di sana. Seluruh bayi dan balita tersebut dipastikan mendapatkan kasih sayang dan perawatan terbaik. “Seperti anak sendiri. Anak-anak mendapat kasih sayang layaknya dari orang tua kandung,” ungkapnya.
Maka dari itu, calon orang tua asuh yang akan mengadopsi anak harus melalui seleksi ketat. Kriteria yang diberikan pada calon orang tua asuh antara lain mereka paling tidak memiliki usia pernikahan minimal lima tahun. “Juga harus ada pertimbangan kesehatan dari dokter,” sambungnya.
Yang paling utama, tentu pertimbangan komitmen memberikan kasih sayang. "Ada juga pertimbangan dari segi ekonomi. Agar kedepan, anak bisa mendapat kehidupan yang layak dan pendidikan yang baik. Jangan sampai anak terlantar dua kali,” katanya.
Setidaknya ada daftar tunggu baru 507 calon orang tua yang mengajukan ingin mengadopsi bayi di sana. Jika ditotal, sudah ribuan daftar tunggu yang sebelumnya belum terpenuhi.
Dari 53 anak di sana, 12 anak di antaranya sudah mendapat orangtua asuh, tinggal menunggu waktu untuk diserahkan. Menunggu pandemi Covid-19 sedikit reda. “Mudah-mudahan Oktober bisa diserahkan,” lanjutnya.
Kasi Pelayanan UPT PPSAB Sidoarjo Sri Mariyani menambahkan, sejak pandemi Covid-19, UPT PPSAB tidak menerima kunjungan dari pihak luar. Jika 12 calon orang tua asuh tersebut sedang rindu anak adopsi mereka, bisa berkomunikasi melalui video call. Sementara itu, layanan informasi lainnya, lebih banyak melalui telepon. “Hanya satu dua calon orang tua asuh saja, yang sesekali berkunjung,” terangnya. (rpp/opi) Editor : Nofilawati Anisa