RADAR SIDOARJO – Melemahnya daya beli masyarakat membuat para peternak telur bebek di Kampung Bebek, RT 05/RW 01, Desa Kebonsari, Kecamatan Candi, Sidoarjo, harus berjuang lebih keras mempertahankan usahanya. Penjualan yang belum pulih sejak pandemi Covid-19 memaksa mereka bertahan dengan terus menjaga kualitas produk dan menyesuaikan strategi penjualan.
Salah satu peternak, Sulaiman, mengatakan penurunan penjualan mulai terasa sejak pandemi dan hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang signifikan. Menurutnya, pertumbuhan usaha berjalan sangat lambat karena permintaan pasar belum mampu kembali seperti sebelum pandemi.
Baca Juga: Dampak MBG, Peternak Telur Ayam di Sidoarjo Semakin Banyak, Harga Anjlok
"Setelah pandemi sampai sekarang, pertumbuhan usaha rasanya lambat sekali karena penjualan belum bisa mengejar angka seperti dulu," ujar Sulaiman, Senin (3/8).
Saat ini, ia lebih banyak mengandalkan pelanggan tetap yang datang langsung ke rumah untuk membeli telur bebek. Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya membaik, ia memilih tetap menjalankan usaha daripada menyerah pada keadaan.
Baca Juga: Gudang Telur di Gebang Sidoarjo Terbakar, Dua Unit Damkar Dikerahkan
"Kondisi sekarang memang serba berat. Daya beli turun, tapi kita yang di bawah ini tidak boleh ikut menyerah. Yang penting usaha terus jalan dan kualitas tetap dipegang," katanya.
Sulaiman mengenang masa sebelum pandemi sebagai periode terbaik bagi usahanya. Saat itu, permintaan dari kawasan wisata Nongko Jajar, Kabupaten Pasuruan, mampu mencapai sekitar 800 butir telur setiap pekan, terutama saat musim liburan. Kini, seiring menurunnya kunjungan wisata, permintaan dari luar daerah juga ikut merosot.
Baca Juga: Rayakan Paskah, Anak-Anak Antusias Ikuti Lomba Hias Telur di Hotel Swiss Belinn Juanda Sidoarjo
Dari sekitar 400 ekor bebek yang dipeliharanya, Sulaiman mampu menghasilkan rata-rata 260 butir telur setiap hari. Agar seluruh hasil produksi tetap terserap pasar, ia menawarkan beberapa varian produk dengan harga yang disesuaikan dengan kemampuan beli masyarakat.
Varian original dijual seharga Rp 3.700 per butir, varian goreng dan oven Rp 3.800 per butir, sedangkan varian bakar dipasarkan dengan harga Rp 4.000 per butir.
Baca Juga: Rayakan Paskah, Anak-Anak Antusias Ikuti Lomba Hias Telur di Hotel Swiss Belinn Juanda Sidoarjo
Menurut Sulaiman, keberagaman pilihan tersebut bukan sekadar strategi bisnis, melainkan upaya memberikan alternatif kepada konsumen yang juga tengah menghadapi tekanan ekonomi.
"Banyak pelanggan yang juga sedang berhemat. Karena itu kami berusaha memberikan pilihan harga tanpa mengurangi kualitas produk," ungkapnya.
Meski kondisi usaha belum sepenuhnya pulih, Sulaiman tetap optimistis sektor usaha kecil akan kembali bergairah apabila kondisi perekonomian nasional membaik dan daya beli masyarakat meningkat.
"Harapan saya cuma satu, semoga ekonomi segera pulih total. Kalau daya beli masyarakat naik lagi, otomatis usaha-usaha kecil seperti kami ini ikut bernapas lega. Selama itu belum terjadi, saya akan terus bertahan," pungkasnya. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista
Sumber : radar sidoarjo