RADAR SIDOARJO - Aroma khas petis kupang dari Desa Balongdowo, Kecamatan Candi, Sidoarjo, terus diminati pelanggan hingga luar pulau.
Meski harga bahan baku dan kemasan terus naik, para perajin di kampung UMKM tersebut tetap mempertahankan kualitas rasa sekaligus menjaga harga agar tetap ramah di kantong.
Baca Juga: Wabup Mimik Dorong ASN Pakai Produk UMKM Sidoarjo, Sepatu Kulit Krian Sudah Tembus Malaysia
Salah satu perajin yang masih bertahan hingga kini adalah Suparlan, 64. Bersama keluarganya, dia telah memproduksi petis kupang selama lebih dari 40 tahun. Kini, hasil produksinya tak hanya dipasarkan di Sidoarjo, tetapi juga merambah Jakarta hingga Kalimantan.
“Kalau sampai sekarang sudah lebih dari 40 tahun produksi petis,” ujar Suparlan saat ditemui di rumah produksinya, Jumat (22/5).
Baca Juga: Sidak Alun-Alun Sidoarjo, Wabup Mimik Usulkan UMKM Tetap Boleh Berjualan dengan Penataan Tertib
Desa Balongdowo memang dikenal sebagai sentra UMKM petis kupang di Sidoarjo. Hampir setiap rumah warga memproduksi petis maupun lontong kupang. Namun, usaha milik Suparlan menjadi salah satu yang cukup dikenal karena pelanggan datang silih berganti setiap hari.
Dia menceritakan, usaha tersebut awalnya dirintis sang ibu dengan cara sederhana, yakni menjual petis sedikit demi sedikit ke pasar.
Baca Juga: Kurda Jadi Percontohan Nasional, BPR Delta Artha Sidoarjo Siapkan Program Emas untuk UMKM
“Dulu awalnya jual ke pasar, bawa sedikit-sedikit. Lama-lama berkembang, alhamdulillah sekarang pembeli datang langsung ke rumah,” katanya.
Petis buatan Suparlan biasa digunakan untuk berbagai kuliner khas Jawa Timur seperti lontong kupang, rujak, hingga kerupuk. Menurutnya, permintaan paling tinggi berasal dari pembeli petis untuk lontong kupang dan rujak.
“Rata-rata buat lontong kupang sama rujak. Itu yang paling laris,” jelasnya.
Pelanggan Suparlan tidak hanya berasal dari Sidoarjo, tetapi juga dari Tulungagung, Kediri, Pasuruan, hingga Surabaya. Bahkan, pesanan dari luar pulau rutin datang melalui pemesanan online.
“Kalau luar pulau biasanya paketan, kirim ke Kalimantan sama Jakarta,” tambahnya.
Dalam sehari, Suparlan mampu memproduksi sekitar 25 kilogram petis. Proses memasak dimulai sejak pukul 03.00 dini hari hingga sekitar pukul 07.00 pagi. Setelah selesai dimasak dan dikemas, pelanggan langsung datang mengambil pesanan.
Usaha rumahan tersebut juga ikut memberdayakan warga sekitar. Jika awalnya hanya dikerjakan bersama istrinya, kini Suparlan memiliki empat karyawan yang membantu proses produksi hingga pengemasan.
“Empat karyawan. Ada yang masak, ada yang bagian kemasan plastik,” ujarnya.
Menariknya, Suparlan memilih mempertahankan harga jual meski biaya produksi terus meningkat. Petis untuk kerupuk dijual Rp 2.500 per setengah kilogram, sedangkan petis lontong kupang dan rujak dijual Rp 5.000 per setengah kilogram.
“Pas harga plastik naik juga tidak pernah menaikkan harga. Pokoknya tetap stabil,” katanya.
Meski dipasarkan secara sederhana tanpa merek khusus, petis kupang Balongdowo tetap memiliki pelanggan setia. Suparlan berharap usaha keluarga tersebut terus berkembang dan bisa diteruskan generasi berikutnya.
“Alhamdulillah, tiap hari selalu ada konsumen yang ambil,” pungkasnya. (dik/vga)
Editor : Vega Dwi Arista