RADAR SIDOARJO - Kenaikan harga kedelai sebagai bahan baku utama tahu membuat para pengusaha di Taman, kelimpungan. Salah satunya adalah Sunardi, pemilik usaha tahu di Jalan Kedungboto, Desa Kedungboto, Kecamatan Taman.
Harga kedelai impor yang sebelumnya stabil di kisaran Rp 8.000 per kilogram kini melonjak drastis hingga menembus Rp 10.800 per kilogram. Kondisi ini memaksa pelaku usaha seperti Sunardi untuk menyiasati produksi agar tetap bertahan.
“Sekarang per kilonya naik antara Rp 2.000 sampai Rp 2.800. Ada yang Rp 10.200, Rp 10.500, sampai Rp 10.800 tergantung jenisnya,” ujar Sunardi saat ditemui Radar Sidoarjo, Rabu (23/4).
Kenaikan harga tersebut membuat Sunardi terpaksa mengurangi porsi tahu yang diproduksi maupun dijual. Ia khawatir jika menaikkan harga, konsumen justru enggan membeli.
“Kalau harga jual dinaikkan, pembeli makin sepi. Jadi sementara ini porsinya saja yang dikurangi,” jelasnya.
Dalam sehari, Sunardi membutuhkan sekitar 1,2 ton kedelai impor, yang sebagian besar berasal dari Amerika Serikat. Ia mengaku sulit mengandalkan kedelai lokal karena ketersediaan terbatas dan kualitasnya masih di bawah kedelai impor.
“Kedelai lokal sekarang jarang dan tidak sebanyak dulu. Panennya sebentar, dua bulan sudah habis. Kualitasnya juga kalah bersih dibanding impor,” imbuhnya.
Usaha tahu milik Sunardi sudah berjalan sejak 2009. Ia bahkan pernah menghadapi situasi serupa ketika krisis moneter, saat harga kedelai sempat menyentuh Rp 12.500 per kilogram. Namun, kali ini ia bersyukur kenaikan harga belum berdampak pada jumlah tenaga kerja.
“Produksi mulai jam 06.30 sampai 16.00. Alhamdulillah, sampai sekarang masih bisa mempertahankan 12 karyawan, semua dari warga sekitar,” terangnya.
Tahu hasil produksinya sebagian besar didistribusikan ke wilayah Surabaya. Sunardi berharap harga kedelai segera kembali stabil agar usahanya bisa terus berjalan.
“Harapannya semoga harga bisa turun lagi supaya penjualan stabil. Sekarang ini naiknya tiap hari, jadi sulit menentukan harga jual yang pas,” pungkasnya.
(dik/vga)