Bioflok sendiri merupakan metode menumbuhkan mikro organisme yang berfungsi sebagai pengolah limbah budidaya lele itu sendiri. Limbah pada budidaya lele diolah menjadi gumpalan-gumpalan yang berbentuk kecil atau bisa disebut sebagai flok.
Kepala Dinas Perikanan Sidoarjo Bachruni Aryawan menjelaskan flok tersebut kemudian akan dimanfaatkan sebagai pakan alami lele. Untuk menumbuhkan mikroorganisme dapat dipacu dengan cara kultur bakteri non pathogen atau probiotik, serta menggunakan aerator dalam kolam untuk menyuplai oksigen sekaligus sebagai pengaduk air di dalam kolam.
"Sistem bioflok dapat menghemat biaya pakan sampai 50 persen," katanya Selasa (15/6).
Bachruni mengungkapkan budidaya lele umumnya dilakukan di kolam-kolam galian konvensional, namun Dinas Perikanan mengembangkannya melalui pembuatan kolam terpal.
Terpal bisa digunakan untuk budidaya ikan lele bahkan bisa meningkatkan hasil panen dengan modal yang lebih terjangkau dibanding kolam beton.
"Tapi rangkanya harus lah memakai bahan dasar besi sehingga lebih awet dan konstruksi yang diterapkan dapat dibongkar pasang kembali," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa budidaya lele sangat mudah memiliki banyak kelebihan. Diantaranya pertumbuhannya cepat, memiliki adaptasi lingkungan yang tinggi, dapat hidup di air dengan kadar oksigen rendah serta bisa diolah menjadi berbagai macam varian menu.
Wakil Bupati Sidoarjo Subandi menegaskan budidaya perikanan air tawar di Sidoarjo harus terus maju. "Hasil budidaya lele dan olahan produknya ini bisa masuk ke perusahaan dan minimarket. Seperti produk UMKM lainnya," tandasnya. (rpp/opi) Editor : Nofilawati Anisa