Salah satu bukti sejarah itu adalah sebuah bangunan kuno yang dikenal dengan nama Markas Besar Oelama (MBO). Rumah kuno berarsitektur bangunan khas zaman kolonial Belanda itu menjadi saksi perjuangan bangsa, terutama dari kalangan santri, yang belum banyak dikenal.
Kepala SMPN 3 Waru Mas Husein mengatakan, melihat kuatnya peran gedung tersebut dalam sejarah perjuangan bangsa, maka sudah seharusnya gedung tersebut dipelihara dan jadikan sebagai bangunan bersejarah.
"Perlu dijadikan sebagai situs cagar budaya yang bernilai sejarah tinggi,'' katanya.
Selain beberapa fungsi lain, gedung itu juga bisa dipakai untuk wisata edukasi sejarah bagi para generasi muda kita agar tidak buta dengan sejarah bangsanya.
Di tempat itu para kiai berkumpul untuk membahas dan menyusun strategi perang melawan Sekutu.
Termasuk juga tempat pemberian "bekal" berupa air minum atau jagung yang telah diberi asma atau doa-doa tertentu untuk menguatkan mental para pejuang.
Saat pertempuran berlangsung, para ulama sudah tidak bisa lagi melakukan pertemuan di Surabaya karena sudah menjadi medan pertempuran yang sangat dahsyat. Karena itulah para kiai memutuskan untuk berkumpul di Waru, Sidoarjo, tempat yang kini dikenal dengan nama MBO. (nis/vga) Editor : Vega Dwi Arista